:::: MENU ::::
  • What is Divergence ? (Technical Analysis)

  • IHSG VS Kurs Rupiah. Siapa pemenangnya ?

  • Institutional Brokerage Service

  • IMN Investa Investor Education

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Welcome to IMN investa by PT Indo Mitra Niaga


Sunday, December 21, 2014

ITMG
Trading Plan :

- Entry area 15300 - 15500
- Stoploss under 14850
- Target price 17000

ITMG secara tren masih jelek namun saat ini terlihat ada tanda-tanda rebound setelah menyentuh support beberapa hari lalu. Entry bisa dilakukan di area 15.300 - 15.500, tentunya karna saham ini masih downtrend, maka hanya bisa untuk short term trade karena kalau membiarkan floating loss di ITMG akan sangat berbahaya.


MYRX
Trading Plan :

- Entry area 675 - 680
- Stoploss under 670
- Target price 730

MYRX terlihat menembus resistance 670, kami melihat adanya peluang penguatan lebih lanjut pada saham MYRX. Entry bisa dilakukan di 675. Out jika tidak berhasil running diatas 675. target harga di 710 lalu 730.





JTPE
Trading Plan :

- Entry area 345 - 350
- Stoploss under 340
- Target price 400

Kami melihat ada potensi bagus untuk saham JTPE. kami merekomendasikan buy on weakness di area 345 - 350 dengan target harga di 400.[/kin]

Thursday, December 18, 2014

CPIN
Trading plan :

- Entry area 3750 - 3760
- Stop loss under 3725
- Target price 4150.

Tekanan jual cukup besar pada saham cpin akibat dari melemahnya kurs rupiah sampai saat ini sudah memasuki area support. rekomendasi kami speculative buy di support dengan stop loss jika running dibawah 3725.





TAXI
Trading plan :

- Entry area 1180 - 1190
- Stop loss under 1175
- Target price 1270

Setelah break out dari double bottom pattern, posisi saat ini sudah throw back ke support 1180.
rekomendasi kami trading buy di 1180. Stop loss jika running dibawah 1175, target kenaikan di 1270.





EKAD
Trading plan :

- Entry area 497 - 500
- Stop loss under 495
- Target price 550

Saham ekad Jika untuk dialy trading, entry bisa dilakukan jika bisa bertahan diatas 500 karena sudah break out harga tertinggi dalam 24 bulan terakhir dengan target di 525 dan cut jika running sudah dibawah 495, namun dengan tren yang masih positif, best entry point ada di 475 - 480.[/kin]






Wednesday, December 17, 2014

IHSG
Lanjutan dari posting kami kemarin tentang IHSG VS Kurs rupiah, ternyata IHSG tidak bisa bertahan lama melawan kurs rupiah yang terus melemah, IHSG akhirnya tumbang juga dipicu oleh melemahnya rupiah diatas 12.600 bahkan sampai menyentuh 13.000. Itu berarti teori tentang sejalannya pergerakan IHSG dan kurs masih berlaku hanya saja kali ini critical point kurs rupiah lebih tinggi di sekitar 12.600. Ketika rupiah running diatas 12.600, pasar baru mulai panic dan aksi jual terjadi, akhirnya volatilitas pasar naik tajam. Berita baiknya adalah akhirnya BI melakukan intervensi di pasar obligasi sehingga volatilitas kurs rupiah bisa kembali terkendali.

Untuk IHSG sendiri sebenarnya aroma penurunan sudah tercium pada saat hari senin open dengan gap down yang cukup besar dan akhirnya kemarin dibuka gap down lagi dengan volume lebih besar. Kami melihat pasar masih lemah dan sentimen bearish masih cukup kuat. Saat ini support pertama ada di 4979 dan support kedua ada di 4950. Technical rebound bisa terjadi ketika Rupiah sudah mulai melandai. 

Pada saat seperti ini cukup banyak saham-saham bluechip yang terkoreksi cukup besar dan biasanya pada saat terjadi rebound, saham-saham inilah yang terdepan memimpin rally, oleh sebab itu entry bertahap mulai bisa dilakukan pada saham-saham bluechip seperti BBRI, BMRI, TLKM, SMGR dan UNVR.[/kin]


Tuesday, December 16, 2014

Setelah beberapa waktu yang lalu nama Peter sondakh hangat diperbincangkan gara-gara mengakuisisi BWPT dan dikabarkan akan melakukan backdoor listing, saat ini konglomerat ini juga punya agenda lain di bursa yaitu melakukan IPO  anak usaha dari PT Rajawali Corpora yaitu PT Archi Indonesia (AI).  AI merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan antara lain tambang emas dan perak. Perusahaan menawarkan sebanyak-banyaknya 1.600.000.000 (1.6 Miliar) lembar saham atau sekitar 40.4117% dari modal ditempatkan dan disetor.

Harga IPO = 1.895 - 2.400

Target perolehanan dana =  3,03 Triliun sampai 3.84 Triliun atau USD 242.56 Juta  - USD 307.2 Juta. (kurs = 12.500)

Jumlah saham beredar setelah IPO = 3.959.250.000

figure 1

Proyek Tambang Archi Indonesia :

  1. Proyek Toka Tindung. (PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya)
  2. Proyek Wonogiri. (PT Alexis Perdana Mineral)

Dana yang diperoleh akan digunakan untuk :

  1. USD 216.2 juta akan digunakan untuk membayar utang kepada Archipelago Resources PLC (AR PLC) yang akan jatuh tempo 30 desember 2014.
  2. USD 35.9 juta akan digunakan untuk mengakuisisi 99.98% saham PT Smart Mining Resources (SMR).
  3. Sisanya digunakan untuk membangun modal kerja dan keperluan perseroan antara lain untuk membangun kantor, mess karyawan, dan fasilitas lain di area tambang.
Total dana minimal yang harus di dapat dari IPO ini adalah USD 252.1 Juta untuk membiayai poin-poin diatas. Jika melihat kebutuhan dana perseroan, dengan asumsi kurs rupiah di Rp 12.500 per US dollar, maka harga saham minimal untuk IPO ada di Rp 1.970 - Rp 2.000.

Wow ternyata mayoritas dana hasil IPO AI ini cuma dipakai untuk bayar utang yah ??? eits..... sebentar dulu, mari kita coba lihat lebih dalam siapa sih Archipelago Resources PLC ini. 

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa PT AI merupakan anak usaha dari PT Rajawali Corpora (PT RC). PT RC adalah perusahaan yang 100 persen kepemilikannya dimiliki oleh Peter Sondakh. Pada tahun 2008 PT RC bekerja sama dengan Aburizal Bakrie dan Bambang Trihatmodjo mengakuisisi 30% saham Archipelago Resources PLC sampai pada tahun 2011 PT RC menguasai 52.4% saham AR PLC dan menjadi pengendali di perusahaan.

pemegang saham Archipelago Resources PLC :

figure 2

Ow... Ternyata Archipelago Resources PLC (AR PLC) juga dimiliki oleh Peter Sondakh juga.

figure 3

Figure 3 memperlihatkan pada tahun 2011, revenue utama AR PLC berasal dari Indonesia. AR PLC melalui anak usahanya yang berada di singapura yaitu Archipelago Resources Pte Ltd (AR Pte) menguasai 95 persen kepemilikan di tambang emas Toka Tindung di Sulawesi Utara sedangkan 5 persen sisanya dimiliki oleh PT Archi Indonesia (AI).

Pada awal tahun 2014 AI melakukan corporate action antara lain :
  1. Membeli 95 persen saham AR Pte Ltd Singapore.
  2. Mengambil alih piutang AR PLC senilai USD 183.5 juta.
Untuk mendanai corporate action ini, AI menerbitkan surat sanggup (promissory note) untuk membayar sejumlah USD 216.2 juta kepada AR PLC yang akan jatuh tempo 30 desember 2014.

Jadi ternyata dana hasil IPO ini memang benar dipakai untuk membayar utang (promissory note), tetapi ternyata utang ini digunakan untuk restruskturisasi kepemilikan dari perusahaan.

figure 4
Setelah IPO maka kepemilikan AI di proyek Toka Tindung menjadi 100 persen sehingga pencatatan laba juga 100 persen masuk ke AI. 

Pertanyaan selanjutnya, apa untungnya PT RC melakukan pemindahan kepemilikan AR Pte dari AR PLC kepada AI dengan pendanaan dari go public ?
  1. PT RC akan mendapatkan lebih banyak persentase kepemilikan di proyek Toka tindung.
  2. PT RC lebih mendapat kebebasan dalam mengelola AI beserta proyek-proyeknya karena PT RC merupakan pemilik utama dari AI.
Mungkin sebagai pemanis, PT RC juga meletakkan kepemilikan PT SMR dibawah AI setelah IPO AI. Sebelumnya SMR 100 persen kepemilikannya dimiliki langsung oleh PT RC. 

sebelum IPO, AI melalui anak usahanya AUGUR Australia memiliki kepemilikan kecil di proyek tambang Wonogiri, setelah IPO, melalui SMR dan Augur, AI mempunyai rata-rata kepemilikan sebesar 70.74 persen atas proyek Wonogiri. Kemungkinan apabila proyek wonogiri ini bisa mendatangkan keuntungan yang besar, maka target selanjutnya dari AI adalah mengakuisisi 100 persen AUGUR Australia sehingga AI bisa memiliki 100 persen proyek Wonogiri (figure 4)

Stand by buyer

Sebenarnya AI mempunyai alur bisnis yang sederhana karena AI sudah mempunyai kontrak penjualan dengan Standard Chartered Bank dimana SCB harus membeli semua emas yang dihasilkan oleh AI di proyek Toka tindung. Dengan kata lain AI sudah memiliki stand by buyer untuk hasil produksinya, syaratnya adalah emas harus bercap logam mulia dengan kemurnian 99.99 persen sehingga AI bekerja sama dengan ANTAM untuk melakukan jasa proses pemurnian. Harga yang disepakati dengan SCB adalah harga spot loco london fixing price. Kontrak ini masih berakhir pada tahun 2016 dengan opsi perpanjangan dua tahun. Sayangnya dalam 6 bulan terakhir harga emas terus turun dan ini mengakibatkan margin perseroan menjadi semakin tipis.

Valuasi :


figure 5
Kami melihat potensi volume penjualan full year2014 bisa 131,100 (Oz) di harga jual rata-rata USD 1,200 / Oz sehingga revenue perusahaan full year 2014 di USD 157,320,000

figure 6
Apabila kita memakai rata-rata Net Profit Margin tiga tahun sebesar 19.68%, maka proyeksi laba bersih AI :

laba bersih AI = USD 157,320,000 X 19.68%
laba bersih AI = USD 30,956,907

Jumlah saham beredar = 3,959,250,000

EPS AI =  USD 30,956,907 / 3,959,250,000
EPS AI = USD 0.00781888

asumsi Kurs Rupiah = 12.500

EPS AI = Rp 97.74

PER AI di harga 2000 = 20.46 X
PER AI di harga 2400 = 24.56 X

Kami melihat AI pada PER 20.46 X dijual pada harga yang cukup premium dibandingkan dengan perusahaan tambang yang sama yaitu PSAB yang dijual pada PER 14.7 X mengingat risiko yang dihadapi perusahaan lebih kepada harga emas dunia yang terus menurun walaupun sedikit terbantu oleh pelemahan nilai tuka rupiah dan perusahaan sudah mempunyai stand by buyer.[/kin]


Attatchment :



Monday, December 15, 2014

Minggu lalu kita dikejutkan oleh pergerakan kurs rupiah yang menembus 12.600. Ada yang aneh dengan fenomena pelemahan kurs kali ini. Pada tahun- tahun sebelumnya pelemahan kurs ini biasanya terjadi ditengah-tengah krisis dan IHSG berdarah-darah, namun kali ini berbeda, ketika kurs sudah mencapai 12.300, market masih tenang-tenang saja. Apakah ini berarti rate 12.000 dianggap wajar oleh investor ?, apakah ini sudah menjadi equilibrium baru ? hmm....



figure 1

Ketika pertanyaan "mengapa kurs rupiah terus melemah?" ditanyakan kepada kementrian keuangan dan Bank Indonesia, mereka selalu menjawab ini semua dikarenakan normalisasi kebijakan moneter the FED yang akan menaikkan Fed fund rate dari 0.25% menuju 0.75% pada kuartal 2 tahun depan dan juga perlambatan ekonomi yang mengancam negara-negara emerging market dan Indonesia bukan satu-satunya negara yang mata uangnya melemah terhada US dollar. Jika kita lihat figure 1, terlihat mulai bulan july 2014, us dollar mulai menunjukkan keperkasaannya terhadap 6 major currency naik dari 80 menuju ke 90 atau sekitar 12.5%. Ini berarti rata-rata major currency melemah 12.5% terhadap USD. Jika major currency saja tidak bisa melawan us dollar, lalu apa kabar Indonesia Rupiah.

Dari mana asal penguatan US Dollar ? 

figure 2. 
Sebenarnya apa hubungannya kenaikan Fed fund rate di Amerika dengan penguatan us dollar sehingga us dollar sangat perkasa terhadap mata uang negara lain termasuk Indonesia ?. Secara simple begini, untuk menstimulus perekonomian dalam negeri pasca krisis subprime mortgage 2008, bank sentral US the fed melakukan kebijakan moneter longgar dengan menurunkan suku bunga acuan dan pemerintah US bersama dengan FED juga memberikan bantuan likuiditas yang besar kepada investment banking dan industri keuangan supaya mereka bisa running business nya kembali dengan normal, namun usaha yang sudah dilakukan ini masih kurang berhasil sehingga the fed melakukan quantitative easing yang kita kenal dengan QE sampai beberapa kali, tujuannya masih sama, untuk memberi stimulus ke perekonomian US supaya perekonomian bangkit. lalu pertanyaanya, kemana dana bantuan itu di alokasikan oleh para fund manager ?. Selain untuk dalam negeri, sebagai institusi bisnis, ketika mendapatkan dana murah dalam jumlah besar, para fund manager dari berbagai investment bank di Amerika tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan untuk berinvestasi di negara lain yang mempunyai return risk free rate yang lebih baik dari pada di US (figure 2).

Saat ini pemerintah US mulai melihat hasil positif dari semua usaha yang mereka sudah dilakukan untuk menggerakkan perekonomian US, oleh sebab itu fed mulai melakukan "sedikit" pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga fed fund rate. Kebijakan ini tentu saja membuat dana yang ada di luar US kembali "pulang" ke US karena mereka harus menyesuaikan lagi cost of fund dari kelolaan mereka. Sebagai contoh biasanya cost dari dana kelolaan mereka katakanlah hanya 0.5% nantinya akan naik menjadi 1% - 1.5% karena kenaikan fed fund rate sehingga mereka harus menata ulang portofolio. Pulangnya dana ini ke US membuat capital out flow yang cukup besar pada negara-negara yang disinggahi dana ini, itu sebabnya kurs negara-negara tersebut mayoritas melemah terhadap USD.

Kurs Rupiah terhadap USD :

figure 3
Untuk Rupiah, sebenarnya pemerintah sendiri menurut kami sudah baik dalam mengatasi masalah pelemahan rupiah ini, PR pemerintah saat ini adalah mempertahankan GDP growth di atas lima persen kalau bisa menaikkan ke 5.5 % dan memperbaiki current account deficit yang salah satunya dengan cara mengurangi utang luar negeri yang berdenominasi us dollar baik swasta maupun pemerintah. Jika dari bulan juli 2014 sampai 12 desember major currency rata-rata melemah 12.5%, ternyata IHSG masih lebih baik dengan pelemahan hanya 10% pada periode yang sama. Secara teknikal rupiah (figure 3) masih ada pada tren depresiasi dengan resistance 1 di 12.650. Support terdekat ada di 12.400.


IHSG VS Kurs Rupiah :


figure 4
Seperti yang kami sampai diatas, ketika rupiah melemah, biasanya IHSG berdarah-darah. Coba kita lihat figure 4, terlihat sekali bahwa IHSG bergerak berlawanan secara chart dengan kurs rupiah terhadap usd. ketika rupiah menguat (chart turun), terlihat IHSG juga menguat (chart naik), namun apa yang terjadi satu bulan terakhir (area biru)? ternyata benar untuk sementara IHSG menang dan menyimpang dari tradisi. Ketika kurs rupiah terhadap usd melemah, IHSG masih tetap menanjak naik, sayangnya kenaikan IHSG masih tidak bisa menembus all time high sehingga dengan pertimbangan makro dan eksternal, kami masih kurang yakin akan kenaikan IHSG dalam beberapa minggu kedepan.


IHSG :

figure 5. bearish gartley pattern
Saat ini IHSG sendiri masih tertahan di support 5121. Menjelang liburan akhir tahun biasa terjadi penurunan volatilitas dan volume pada IHSG dan kami melihat tidak akan ada pegerakan signifikan dalam minggu-minggu ini namun bila running dibawah 5121, (fibo 61.8%) akan bahaya. Trading range ada di 5107 - 5207. [/kin]



Need More Information ? Contact us